APAKAH TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA?
Sepintas pertanyaan adalah pertanyaan sederhana yang dapat dijawab dengan hanya membuka teks- teks kitab suci sebagaimana alqur’an menyatakan bahwa tiada segala makhluk diciptakan kecuali untuk menghamba. Jawaban tersebut adalah sebagai wujud akhir dari pencarian jawaban atas pertanyaan di atas. Jawaban yang sangat berbau doktrinasi sebab meragukan jawaban tersebut berarti meragukan kitab suci dan meragukan kitab suci berarti meragukan adanya tuhan.
Tapi menurut hemat kami, sesungguhnya jawaban atas pertanyaan tersebut tidaklah sesederhana itu. Dibutuhkan jawaban- jawaban yang berbau analisis dan logis untuk menghasilkan pemahaman yang universal dan dapat diterima oleh semua individu. Sejarah membuktikan adanya orang- orang yang hidup dengan mengakui adanya tuhan tapi tidak mengakui adanya agama. Implikasinya adalah ketidakpercayaan terhadap teks- teks yang dianggap suci sebagai manifestasi dari kalam tuhan. Mereka menganggap bahwa kehadiran tuhan dan kehadiran manusia adalah dua hal yang terpisah pengkajiannya.
Apakah tuhan betul- betul menciptakan kita? Berdasarkan prinsif kausa prima, setiap ciptaan pasti memiliki sebab pencipta dan akhirnya akan sampai pada sebab akhir yang tidak disebabkan oleh yang lain. Berdasar pada prinsif prinsif itulah, maka sebab terakhir yang tak bersebab itulah yang disebut tuhan.
Lantas mengapa tuhan menciptakan kita? Apakah untuk menyembahnya? Bila tujuannya untuk menyembah, maka tentunya tuhan sendiri pun tidak sempurna sebab dia masih butuh disembah. Bila tuhan masih membutuhkan sesuatu, maka tentunya dia bukanlah tuhan. Apakah karena dia merasa kesepian? Jelas tidak. Karena tuhan yang merasa kesepian, tentu menciptakan makhluk berasal dari kebutuhannya untuk ditemani sehingga dia bukanlah tuhan yang sebenarnya. Apakah dia ingin bermain- main? bila tuhan ingin bermain- main, mengapa dia menciptakan surga dan neraka sebagai tempat pembalasan? Mengapa dia menciptakan berbagai hukum- hukum yang dapat kita pilih? Konsekwensi dari kemampuan memilih makhluk menjadikan dia sadar terhadap perbuatannya dan konsekwensi yang harus dijalaninya sementara mainan tidak mempunyai kemampuan memilih. Mainan mungkin bisa sadar terhadap berbagai hal dan kondisi yang ada di depannya. Tapi tetap saja mainan tidak bisa memilih. Mainan hanya mengikuti apapun yang dilakukan pemain. Sementara manusia berhak memilih. Tuhan hanya menciptakan hukum permainan, rule of the game & manusia yang memilih pemainan mana yang akan dijalaninya. Akhir dari permainan adalah surga dan neraka yang akan didapatkan sesuai dengan permainan apa yang kita pilih. Oleh karena itu menurut hemat kami, tuhan menciptakan manusia bukan untuk hal- hal yang dsebutkan di atas sebab bila hal- hal tersebut dijadikan alasan, maka itu akan mereduksi sifat ketuhanannya.
Jika demikian adanya, maka ada beberapa kesimpulan yang dapat kita tarik seputar alasan penciptaan makhluk terutama manusia ini. Pertama, bahwa Tuhan jelas menciptakan makhluk bukan atas dasar kebutuhannya untuk disembah. Kedua terdapat alasan yang sangat kuat yang mendasari penciptaan manusia. Tuhan tidaklah butuh makhluk untuk menemani kesendiriannya sebab sesungguhnya tanpa manusia pun (Red: Makhluk) tuhan tak akan kekurangan kekuasaannya sebab dia tak butuh terhadap sesuatu apapun. Tuhan mampu berdiri sendiri sebab dialah sang maha tunggal.
Tuhan maha berkuasa, maha berkehendak, maha pencipta, dan manifestasi dari sifat- sifatnya adalah hadirnya makhluk. Makhluk tercipta karena kemahakuasaan dan kehendak tuhan. Tapi dalam berkehendaknya tuhan tidak bermain- main tanpa tujuan. Tuhan menciptakan tanggung jawab bagi manusia dengan adanya akal dan nafsu pada dirinya. Kemerdekaan berpikir dan bertindak menjadikan manusia memiliki kesadaran yang tinggi untuk memilih.
Tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri adalah untuk dirinya sendiri. Ketika sebuah pisau diciptakan, menurut hemat saya dia tak lantas menjadi pisau. Dalam kediamannya dan tanpa fungsi, dia tidak berhak disebut apa- apa. Fungsilah yang menunjukkan indentitasnya sebagai pisau. Fungsi itu kemudian disesuaikan dengan potensi yang dimilikinya. Pisau tidak mungkin dipakai menulis sebab dia tidak memiliki potensi itu. Sama halnya dengan manusia. Manusia memiliki potensi yang kompleks yang membuatnya sama dengan makhluk lain. Tapi di sisi lain manusia juga memiliki potensialitas yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Potensi itu adalah akal. Penggunaan potensi itulah yang menunjukkan identitasnya sebagai manusia. Proses pencarian identitas diri itulah yang membuat kita layak disebut manusia. Muara dari proses pencarian jati diri tersebut adalah mengenal diri kita dan mengenal dari mana kita berasal.
Sepintas pertanyaan adalah pertanyaan sederhana yang dapat dijawab dengan hanya membuka teks- teks kitab suci sebagaimana alqur’an menyatakan bahwa tiada segala makhluk diciptakan kecuali untuk menghamba. Jawaban tersebut adalah sebagai wujud akhir dari pencarian jawaban atas pertanyaan di atas. Jawaban yang sangat berbau doktrinasi sebab meragukan jawaban tersebut berarti meragukan kitab suci dan meragukan kitab suci berarti meragukan adanya tuhan.
Tapi menurut hemat kami, sesungguhnya jawaban atas pertanyaan tersebut tidaklah sesederhana itu. Dibutuhkan jawaban- jawaban yang berbau analisis dan logis untuk menghasilkan pemahaman yang universal dan dapat diterima oleh semua individu. Sejarah membuktikan adanya orang- orang yang hidup dengan mengakui adanya tuhan tapi tidak mengakui adanya agama. Implikasinya adalah ketidakpercayaan terhadap teks- teks yang dianggap suci sebagai manifestasi dari kalam tuhan. Mereka menganggap bahwa kehadiran tuhan dan kehadiran manusia adalah dua hal yang terpisah pengkajiannya.
Apakah tuhan betul- betul menciptakan kita? Berdasarkan prinsif kausa prima, setiap ciptaan pasti memiliki sebab pencipta dan akhirnya akan sampai pada sebab akhir yang tidak disebabkan oleh yang lain. Berdasar pada prinsif prinsif itulah, maka sebab terakhir yang tak bersebab itulah yang disebut tuhan.
Lantas mengapa tuhan menciptakan kita? Apakah untuk menyembahnya? Bila tujuannya untuk menyembah, maka tentunya tuhan sendiri pun tidak sempurna sebab dia masih butuh disembah. Bila tuhan masih membutuhkan sesuatu, maka tentunya dia bukanlah tuhan. Apakah karena dia merasa kesepian? Jelas tidak. Karena tuhan yang merasa kesepian, tentu menciptakan makhluk berasal dari kebutuhannya untuk ditemani sehingga dia bukanlah tuhan yang sebenarnya. Apakah dia ingin bermain- main? bila tuhan ingin bermain- main, mengapa dia menciptakan surga dan neraka sebagai tempat pembalasan? Mengapa dia menciptakan berbagai hukum- hukum yang dapat kita pilih? Konsekwensi dari kemampuan memilih makhluk menjadikan dia sadar terhadap perbuatannya dan konsekwensi yang harus dijalaninya sementara mainan tidak mempunyai kemampuan memilih. Mainan mungkin bisa sadar terhadap berbagai hal dan kondisi yang ada di depannya. Tapi tetap saja mainan tidak bisa memilih. Mainan hanya mengikuti apapun yang dilakukan pemain. Sementara manusia berhak memilih. Tuhan hanya menciptakan hukum permainan, rule of the game & manusia yang memilih pemainan mana yang akan dijalaninya. Akhir dari permainan adalah surga dan neraka yang akan didapatkan sesuai dengan permainan apa yang kita pilih. Oleh karena itu menurut hemat kami, tuhan menciptakan manusia bukan untuk hal- hal yang dsebutkan di atas sebab bila hal- hal tersebut dijadikan alasan, maka itu akan mereduksi sifat ketuhanannya.
Jika demikian adanya, maka ada beberapa kesimpulan yang dapat kita tarik seputar alasan penciptaan makhluk terutama manusia ini. Pertama, bahwa Tuhan jelas menciptakan makhluk bukan atas dasar kebutuhannya untuk disembah. Kedua terdapat alasan yang sangat kuat yang mendasari penciptaan manusia. Tuhan tidaklah butuh makhluk untuk menemani kesendiriannya sebab sesungguhnya tanpa manusia pun (Red: Makhluk) tuhan tak akan kekurangan kekuasaannya sebab dia tak butuh terhadap sesuatu apapun. Tuhan mampu berdiri sendiri sebab dialah sang maha tunggal.
Tuhan maha berkuasa, maha berkehendak, maha pencipta, dan manifestasi dari sifat- sifatnya adalah hadirnya makhluk. Makhluk tercipta karena kemahakuasaan dan kehendak tuhan. Tapi dalam berkehendaknya tuhan tidak bermain- main tanpa tujuan. Tuhan menciptakan tanggung jawab bagi manusia dengan adanya akal dan nafsu pada dirinya. Kemerdekaan berpikir dan bertindak menjadikan manusia memiliki kesadaran yang tinggi untuk memilih.
Tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri adalah untuk dirinya sendiri. Ketika sebuah pisau diciptakan, menurut hemat saya dia tak lantas menjadi pisau. Dalam kediamannya dan tanpa fungsi, dia tidak berhak disebut apa- apa. Fungsilah yang menunjukkan indentitasnya sebagai pisau. Fungsi itu kemudian disesuaikan dengan potensi yang dimilikinya. Pisau tidak mungkin dipakai menulis sebab dia tidak memiliki potensi itu. Sama halnya dengan manusia. Manusia memiliki potensi yang kompleks yang membuatnya sama dengan makhluk lain. Tapi di sisi lain manusia juga memiliki potensialitas yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Potensi itu adalah akal. Penggunaan potensi itulah yang menunjukkan identitasnya sebagai manusia. Proses pencarian identitas diri itulah yang membuat kita layak disebut manusia. Muara dari proses pencarian jati diri tersebut adalah mengenal diri kita dan mengenal dari mana kita berasal.
