Selasa, 26 Februari 2008

Memberi Sentuhan Valentine Bagi Alam
Oleh Sunandar*

Layaknya hari raya keagamaan, valentine day menjadi sebuah hari dimana euphoria manusia ditumpahkan. Dan di saat Valentine menjadi momen yang menjelma wajah kultur, maka yang hadir adalah ritualitas yang disakralkan.

Setiap tahun, tanggal 14 Februari menjadi salah waktu dimana konsentrasi masyarakat di berbagai belahan dunia dipusatkan. Valentine day atau hari valentine, seperti itulah kita sering menyebutnya. Bahkan seiring berjalannya waktu, istilah hari valentine mulai terlihat bagai ritual keagamaan. Sebut saja istilah “hari raya valentine” merupakan istilah baru yang meski terkesan hiperbolik, namun posisinya mulai disejajarkan dengan hari raya keagamaan besar seperti idul fitri, idul adha, dan natal. Faktanya terlihat dari prilaku masyarakat yang berlebihan dalam mengapresiasi tanggal 14 Februari sebagai hari yang khusus. Dan entah berawal dari perbuatan siapa, valentine day kemudian menjadi momen yang menghadirkan justifikasi masyarakat di berbagai belahan dunia untuk menumpahkan seluruh perasaan kasih sayangnya.

Dalam perjalanannya, maka kata kasih sayang kemudian mengalami perubahan tafsir dan bahkan jatuh pada perubahan regresif yang ditandai dengan paradoks perilaku dari kasih sayang itu sendiri.

Ketika masyarakat global memperingati tanggal 14 februari sebagai valentine day, maka momen tersebut lalu menemukan pola interaksi tersendiri dengan salah satu sisi dalam diri manusia. Manusia memiliki aspek materi dan non materi. Aspek lahiriah dan batiniah. Pada aspek batiniah tersebut, momen valentine berkorelasi dengan kebutuhan batin manusia yang menginginkan kasih sayang. Meminjam istilah Jalaluddin Rakhmat, need for affiliation adalah salah satu kebutuhan batiniah manusia yang penting selain need for achievement dan need for power. Bahkan dalam the art of loving, Erich Fromm mengatakan bahwa manusia modern sebenarnya adalah orang- orang yang menderita. Penderitaan tersebut diakibatkan oleh kahausan mereka untuk dicintai oleh orang lain.

Ritual Agama Baru
Berkaca pada teori Freud tentang agama sebagai ilusi atau efek dari kebutuhan manusia akan kedamaian, maka valentine menjelma sebagai sarana pemenuhan kebutuhan manusia akan cinta dan hasrat untuk mendapatkan kasih sayang. Dalam fase selanjutnya, secara tersirat, valentine menjadi sebuah agama baru yang sarat dengan perkembangan pemaknaan. Evolusi pemaknaan tersebut lalu mengarah pada munculnya ritus- ritus yang juga mengalami perubahan secara evolusioner. Mulai dari ritus saling menyampaikan pesan kasih, serah terima kado, sampai merasa penting untuk menghiasi diri dengan simbol- simbol valentine yang entah dari mana datangnya namun diamini secara serentak.

Valentine, kampanye media & regresifitas makna
Tentu saja keistimewaan valentine day berasal dari kesan yang dimunculkan oleh khalayak terhadap tanggal 14 Februari. Namun keistimewaan tersebut bukanlah sesuatu yang an sich, serta merta adanya. Banyak hari raya yang diperingati setiap tahunnya tidak mendapat tempat yang sakral dan meriah semeriah valentine day. Dengan mengikuti alur logika berpikir ini, maka analisis lalu berkembang pada usaha membandingkan hal- hal yang memicu terjadinya perbedaan persepsi dan cara tanggap yang mengarah pada sikap dan tindakan individu dalam merespon valentine. Pertama, dalam kampanyenya valentine day dianggap berlaku secara universal dan melampaui batas- batas ras, etnik, terlebih lagi institusi agama. Sementara dalam konteks sosial, ranah agama dianggap sebagai ranah yang mampu membatasi perilaku satu individu dengan individu yang lain, satu kelompok dengan kelompok yang lain dalam batas yang sangat ekstrim. Hal ini berhubungan dengan need for afiliation yang menjadi standarisasi dari kampanye tersebut. Kedua, propaganda hari valentine menemukan jalan yang lapang berkat persenyawaan yang kuat antara media massa dengan sistem- sistem kapital yang ada. Simbol- simbol yang dianggap mewakili valentine telah membanjiri tempat- tempat keramaian jauh sebelum hari valentine diperingati. Dan simbol tersebut hadir tanpa mampu kita ajak berdialog secara kritis. Dalam konteks psikologi komunikasi, simbol- simbol ini merupakan sebuah model komunikasi massa dalam bentuk yang lain sementara menurut Cassata & Asamte, komunikasi massa hanya bersifat satu arah dan mengendalikan penerima informasi sehingga sangat efektif untuk menunjang proses komunikasi persuasif. Di sisi lain, ideologi media yang lebih banyak berorientasi pada pencarian kapital telah menghegemoni komunikan dengan iklan- iklan berbau valentine yang hanya muncul dalam makna relasi sepasang manusia berlainan jenis. Hal ini dapat kita lihat dari iklan- iklan media cetak, audio visual dan film- film yang tayang untuk menselebrasi hari valentine. Ketiga, Menurut Noedle- Neumann, penelitian tentang efek media massa selama 40 tahun terakhir tidak terlalu memberikan dampak persuasif yang signifikan terhadap komunikan. Sehingga bila pada hari ini efek promosi 14 februari sebagai hari kasih sayang begitu kuat mempengaruhi cara pandang masyarakat, hal itu tidak semata- mata dipengaruhi oleh kemampuan media dalam melakukan propaganda. Lebih dari itu, valentine secara kuat menyerang salah satu kebutuhan paling dasar manusia dan membuat pola ketergantungan terhadapnya. Need for affiliation yang diterjemahkan dalam bentuk perhatian dan segala bentuk simbolisasinya ternyata turut melegetimasi adanya tempat bagi terpenuhinya kebutuhan seks. Dan seks adalah salah satu kebutuhan dasar lahiriah selain makan dan minum yang selalu menuntut untuk dipenuhi. Ini berbeda dengan cara pandang terhadap hari raya maulid nabi dalam berbagai agama atau hari raya nasional yang tidak berkorelasi langsung dengan kebutuhan dasar manusia. Dan akhirnya seks menemukan tempat pembenarannya sebagai sebuah ritus dan keharusan dalam perayaan valentine sebagai sebuah hari raya.

Cinta alam; redefenisi makna kasih sayang
Manusia memang selalu butuh akan disayangi, bahkan menyayangi sehingga adalah sesuatu yang wajar jika valentine day menjadi salah satu alat untuk memenuhi kebutuhan itu. Namun interpretasi valentine yang dipersempit pada kasih sayang antara dua jenis manusia berlainan dan bermuara pada pemenuhan kebutuhan seks merupakan pemahaman yang salah kaprah dan perlu diluruskan. Kasih sayang memiliki makna yang lebih luas. Kasih sayang adalah kebutuhan batin, bukan kebutuhan lahir. Dan kebutuhan batin berorientasi progresif, bukan sikap regresif yang menabrak sendi- sendi logika dan etika. Sudah selayaknya sifat kasih sayang tersebut diorientasikan pada dimensi kehidupan lain yang bermuatan progresif. Alam merupakan salah satu bagian dari kehidupan kita yang membutuhkan sentuhan kasih sayang. Kerusakan alam akibat hilangnya rasa cinta kita menyebabkan korban yang tidak lagi berskala lokal, tetapi telah menyentuh wilayah global. Global warming merupakan salah wujud dari hilangnya kasih sayang kita terhadap alam. Sudah saatnya alam membutuhkan sentuhan valentine dengan mengedepankan pemenuhan kebutuhan batin di atas kebutuhan lahir. Bukankah dengan memelihara alam dan menjaga kecintaan kita terhadapnya, kita telah menyiapkan tempat yang layak bagi anak cucu kita dan orang- orang terspesial di hati kita. Dan itulah makna valentine yang sebenarnya.

Tidak ada komentar: