Mulai dari diri
By.Inand
Matanya berkaca- kaca bagai kilat menyilaukan saat berbicara. Urat- urat wajahnya jelas tersembur saat menceritakan segala sesuatu tentang kehidupannya. Meski seluruh kulitnya telah berbaur dengan warna legam kehitaman akibat penindasan cahaya mentari, namun ada rasa optimis dalam seluruh bahasa tubuhnya yang turut menyertai bahasa- bahasa optimis yang keluar dari lidahnya. “saya ini ndi’ subuh- subuh sudah keluar mengayuh becak. Kadang- kadang sakit dadaku tapi tetap harus kupaksakan demi anak istriku agar tetap bisa makan”. Sangkala, demikian namanya. Logat makassarnya yang begitu kental ternyata menyimpan daya santun yang sangat magis mempengaruhi kami untuk berlam- lama bersamanya. Dengan lancer dia mnceritakan kisah idupnya yang penuh dengan dinamika. Mulai dari putus sekolah, pontang panting cai kerja, sampai memutuskan untuk mengambil langkah berani dengan nekat melamar wanita idamannya untuk dijadikan istri. “sempat juga saya ditolak sama calon mertua karena pekerjaan saya yang hanya tukang becak. Dan orang tua pacar saya memberikan mahar yang cukup tinggi dengan harapan saya membatalkan keinginan saya. Tapi saya tidak menyerah. Dengan bermodal becak dan bantuan beberapa teman, saya akhirnya mampu membayar mahar tersebut dan memboyong wanita idaman saya”.
Itulah sekelumit cerita seorang sangkala, satu dari sekian banyak tukang becak yang berkeliaran menantang kejamnya arus kehidupan kota makassar. Hari- demi hari harus mereka lalui dengan perasaan was- was akan kebijakan penguasa yang semakin menggila dan makin tidak pro terhadap rakyat kecil. Ditambah lagi beban hidup kota Makassar yang semakin menggila akibat kenaikan harga sembako. Semua itu adalah efek dari kebijakan- kebijakan pemimpin di wilayah elit yang tidak diatur secara baik tetapi akibatnya dirasakan oleh rakyat kecil seperti Sangkala sementara mereka, sang pemimpin dengan santainya dan tanpa terlihat menderita meminta rakyat untuk sabar dan sabar.
Kita kehilangan keteladanan. Kita tak memiliki panutan. Ini sdisebabkan oleh perilaku pemimpin kita yang tidak sesuai dengan apa yang dikatakannya. Dan hal tersebut berefek pada kepercayaan masyarakat yang semakin terkikis pada para pemimpinnya. Makanya secara psikologis ini akan berdampak pada kejenuhan rakyat terhadap situasi dan melahirkan efek chaos akibat sikap pesimis yang berlebihan. Secara sosiologis, ini tampak dari cara- cara masyarakat yang enderung menyelsaikan persoalan dengan gayanya sendri. Kekerasan- kekerasan sebagai sebuah cara dalam menyampaikan aspirasi menjadi sebuah hal yang lumrah. Pelanggraran- pelanggrana hukum cenderung diselesaikan sendiri dengan cara cara sendiri yang terkesan berada di luar kendali. Maysrakayt tidak lagi mepercayai lembaga hukum sebagai tempat mencari keadilan. Mereka memunculkn konsef keadilan sendiri dan menerapkannya secara subjektif.
Seorang filosof pernah berkata, orang- orang diubah bukan dengan retorika, tapi dengan contoh. Sudah saatnya para pemimpin merubah paradigmanya dalam memerintah. Tunjukkan dengan aksi dan sikap hidup, bukan dengan mengumbar kata- kata. Bila mengatakan bahwa negara kita miskin, tunjukkan sikap hidup sederhana. Bukan dengan menghambur- hamburkan uang negara untuk kegiatan jalan- jalan yang kuat bermanfaat secara ril bagi masyarakat. Bila sikap hidup belum mampu diubah, jangan berharap kondisi negeri kita akan berubah. Masyarakat tidak akan berubah tanpa contoh. Seperti kata aa Gim, “mulailah dari dirimu sendiri”.
By.Inand
Matanya berkaca- kaca bagai kilat menyilaukan saat berbicara. Urat- urat wajahnya jelas tersembur saat menceritakan segala sesuatu tentang kehidupannya. Meski seluruh kulitnya telah berbaur dengan warna legam kehitaman akibat penindasan cahaya mentari, namun ada rasa optimis dalam seluruh bahasa tubuhnya yang turut menyertai bahasa- bahasa optimis yang keluar dari lidahnya. “saya ini ndi’ subuh- subuh sudah keluar mengayuh becak. Kadang- kadang sakit dadaku tapi tetap harus kupaksakan demi anak istriku agar tetap bisa makan”. Sangkala, demikian namanya. Logat makassarnya yang begitu kental ternyata menyimpan daya santun yang sangat magis mempengaruhi kami untuk berlam- lama bersamanya. Dengan lancer dia mnceritakan kisah idupnya yang penuh dengan dinamika. Mulai dari putus sekolah, pontang panting cai kerja, sampai memutuskan untuk mengambil langkah berani dengan nekat melamar wanita idamannya untuk dijadikan istri. “sempat juga saya ditolak sama calon mertua karena pekerjaan saya yang hanya tukang becak. Dan orang tua pacar saya memberikan mahar yang cukup tinggi dengan harapan saya membatalkan keinginan saya. Tapi saya tidak menyerah. Dengan bermodal becak dan bantuan beberapa teman, saya akhirnya mampu membayar mahar tersebut dan memboyong wanita idaman saya”.
Itulah sekelumit cerita seorang sangkala, satu dari sekian banyak tukang becak yang berkeliaran menantang kejamnya arus kehidupan kota makassar. Hari- demi hari harus mereka lalui dengan perasaan was- was akan kebijakan penguasa yang semakin menggila dan makin tidak pro terhadap rakyat kecil. Ditambah lagi beban hidup kota Makassar yang semakin menggila akibat kenaikan harga sembako. Semua itu adalah efek dari kebijakan- kebijakan pemimpin di wilayah elit yang tidak diatur secara baik tetapi akibatnya dirasakan oleh rakyat kecil seperti Sangkala sementara mereka, sang pemimpin dengan santainya dan tanpa terlihat menderita meminta rakyat untuk sabar dan sabar.
Kita kehilangan keteladanan. Kita tak memiliki panutan. Ini sdisebabkan oleh perilaku pemimpin kita yang tidak sesuai dengan apa yang dikatakannya. Dan hal tersebut berefek pada kepercayaan masyarakat yang semakin terkikis pada para pemimpinnya. Makanya secara psikologis ini akan berdampak pada kejenuhan rakyat terhadap situasi dan melahirkan efek chaos akibat sikap pesimis yang berlebihan. Secara sosiologis, ini tampak dari cara- cara masyarakat yang enderung menyelsaikan persoalan dengan gayanya sendri. Kekerasan- kekerasan sebagai sebuah cara dalam menyampaikan aspirasi menjadi sebuah hal yang lumrah. Pelanggraran- pelanggrana hukum cenderung diselesaikan sendiri dengan cara cara sendiri yang terkesan berada di luar kendali. Maysrakayt tidak lagi mepercayai lembaga hukum sebagai tempat mencari keadilan. Mereka memunculkn konsef keadilan sendiri dan menerapkannya secara subjektif.
Seorang filosof pernah berkata, orang- orang diubah bukan dengan retorika, tapi dengan contoh. Sudah saatnya para pemimpin merubah paradigmanya dalam memerintah. Tunjukkan dengan aksi dan sikap hidup, bukan dengan mengumbar kata- kata. Bila mengatakan bahwa negara kita miskin, tunjukkan sikap hidup sederhana. Bukan dengan menghambur- hamburkan uang negara untuk kegiatan jalan- jalan yang kuat bermanfaat secara ril bagi masyarakat. Bila sikap hidup belum mampu diubah, jangan berharap kondisi negeri kita akan berubah. Masyarakat tidak akan berubah tanpa contoh. Seperti kata aa Gim, “mulailah dari dirimu sendiri”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar